Sumut Masih Rawan Kaki Gajah E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by Hotma   
Thursday, 05 November 2009 09:08

Tapanuli Selatan, Labuhanbatu, dan Nias masih rawan penyakit kaki gajah. Kerawanan ini terjadi karena masyarakat belum melakukan pola hidup sehat dan kurang menjaga kebersihan.


Kasi Pencegahan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2), Suhardiono SKM MKes, Selasa (3/11) mengatakan, di Kabupaten Labuhanbatu yang memiliki 22 kecamatan 242 desa di Desember 2007-Februari 2008 terdapat penyakit kaki gajah sebanyak 876.763 jiwa.


 "Nias di bulan November 2007  di 3 kecamatan dengan jumlah penderita sebanyak 46.250 jiwa," kata Suhardiono.


Dia mengatakan, pihaknya mengimbau dan  mensosialisasikan juga menggelar pengobatan secara massal. "Namun sepertinya masyarakat kita kurang memahami hidup sehat dan kurang menjaga kebersihan. Biasanya penyakit ini subur di daerah yang kurang bersih,"


Suhardiono menerangkan, penyakit kaki gajah ini disebabkan oleh cacing filarial yang terdapat di dalam tubuh manusia dan mengganas akibat gigitan  nyamuk. Ia merincikan, cacing memiliki 3  spesies, yakni wuchereria gancroffi, brugia malayi dan brugia timori.


"Untuk jenis cacing filariasis jenis wuchereria gancroffi terdapat di Pulau Jawa dan Papua Nugini. Jenis brugia malayi terdapat di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Sedangkan brugia timori, terdapat di Timor Timur," terangnya.


Meskipun penyakit kaki gajah ini tidak mematikan, lanjutnya, namun kondisi bagian tubuh akan membesar. Penyakit ini dapat menularkan ke orang lain melalui gigitan nyamuk.


"Nyamuk apa saja, baik aedes aegepty, albovektus dan nyamuk lainnya dapat membuat berkembangnya cacing filarial di dalam tubuh manusia," kata.


Sampai saat ini, akunya, penyakit kaki gajah belum bisa disembuhkan. Kepada penderita hanya dapat diberikan obat (Mass Drug Administration (MDA), Oretyl Carbamazine Citrate (DEC), Albendazole, Parasetamol dan obat penawar seperti salep kulit.

 

HOTMA SARAGIH | GLOBAL | MEDAN

Comments (0)
Share