|
Oleh: Rina Mahfuzah Nst Dari jam lima pagi, mulut Amah tak berhenti berkicau seperti burung beo. Begitu matanya mulai membuka dan langkahnya menuju ke kamar mandi. Dia melihat air di dalam bak mandi tidak bertambah sedikitpun. Itu berarti, dari jam sebelas malam sampai sekarang air belum juga hidup. Padahal setiap malamnya kran air sengaja dihidupkan kecil saja, supaya besoknya bak air penuh dan meterannya tidak terlalu cepat berjalan. Amah berkali-kali menarik nafas. Mati air lagi. "Hari ini mati air. Kalian tidak usah mandi, cuci muka saja, kecuali untuk buang air besar,"kata Amah sewaktu suami dan ke empat anak laki-lakinya bangun. Peringatan Amah disambut dengan protes pada awalnya, tapi akhirnya suami dan ke empat anak laki-laki Amah setuju demi melihat kenyataan yang ada.
"Jangan lupa, abang complain mengenai masalah air kita ke kantor PDAM. Kalau ada masalah, biar segera diatasi petugas,"pesan Amah, saat suaminya berpamitan untuk mengantar anak-anak ke sekolah sekaligus menuju ke kantornya.
"Iya, nanti abang usahakan,"jawab suaminya sebelum berlalu.
Sudah hampir pukul delapan pagi. Setengah ragu Amah menghampiri tukang ikan keliling yang biasa mangkal di daerah mereka. Hampir setiap hari tukang ikan itu datang mengendarai sepeda motor, dengan membawa sejumlah ikan di dalam bak persegi empat yang terbuat dari kayu. Biasanya, kedatangannya sudah ditunggu para ibu.
Wandi, si tukang ikan paling tahu selera Amah dan ibu-ibu lainnya. Biasanya mereka lebih memilih membeli ikannya daripada membeli di kedai sampah di daerah ini ataupun langsung ke pajak dengan resiko mengeluarkan ongkos lebih besar. Ikan-ikan yang dibawa Wandi memang selalu tampak segar dan lebih dari satu jenis. Terkadang ditambah pula dengan udang, kepiting dan kepah. Harga ikan-ikan Wandi tidak lebih mahal dari harga ikan yang ditawarkan di pajak.
"Kok telat hari ini, Kak?"tanya Wandi.
"Di rumah kami sedang mati air. Dari tadi malam sampai pagi ini. Tahu sendiri kalau sudah mati air, semua jadi serba tak menentu. Anak-anak sampai nggak bisa mandi pergi ke sekolah. Pemakaian air semua dijatah,"jawab Amah agak panjang dengan raut kesal.
"Kalau di daerah kami tidak pernah ada istilah mati air. Alirannya kan langsung dari gunung,"balas Wandi yang rumahnya berada di daerah menuju Brastagi.
"Sudah dapat dipastikan, peristiwa mati air ini adalah imbas dari semakin banyaknya rumah-rumah bertingkat di daerah ini yang sudah menggunakan pompa air. Jadi, kalau mereka menggunakan pompa airnya, kesempatan kita mendapatkan air jadi lebih kecil," Kak Amah kemudian membandingkan kondisi daerah Sei Mati saat ini dengan lima tahun yang lalu, di saat pembangunan rumah-rumah bertingkat belum begitu banyak. Dulu, jarang sekali terjadi kemacetan air PAM.
Jalan air selalu lancar dari pagi sampai pagi lagi. Tapi sekarang, tidak pagi, siang bahkan malam seringkali jalan air macet, bahkan mati total! Apalagi untuk rumah Kak Amah yang berlantai dua dan memiliki kamar mandi di atas, air tidak bisa naik sampai ke atas lagi. Setiap malam, suami atau anak laki-laki Kak Amah selalu mengangkat air beberapa ember untuk persediaan di kamar mandi yang berada di dalam kamar. "Jadi, mana yang lebih bagus, mati air atau mati lampu, Kak?"kelakar Wandi. "Dua-duanya nggak bagus! Kalau mati lampu, mau mengerjakan apapun sulit di malam hari. Begitu juga bagi yang punya usaha. Tapi kalau mati air, lebih gawat lagi. Air sangat kita butuhkan dalam hidup. Seperti juga tumbuhan dan binatang membutuhkan air. Air memang karunia Tuhan yang paling besar untuk kehidupan kita. Bayangkan, kalau pasokan air sampai menipis, hidup kita akan terancam kekeringan!" Tampak si tukang ikan manggut-manggut mendengar omongan Kak Amah. Sementara di dalam hati dia masih mengharapkan para ibu datang membeli ikan-ikannya. Dia malah khawatir, karena alasan mati air, hari ini ikan-ikannya tidak laku terjual!.
"Makanya orang-orang di zaman dahulu disarankan memilih rumah di sekitar sumber air. Apakah sungai, anak sungai, ranting sungai bahkan mata air, karena air dipandang sebagai mata air kehidupan. Keberadaan air sungai maupun anak sungai yang ada di sekitar mereka berperan multiguna, sebagai air minum dan MCK, mengairi lahan pertanian, mendukung fungsi sosial budaya, relijius dan juga ekonomi."
"Kalau air sungai sekarang tidak mungkin multifungsi seperti itu, karena sudah banyak tercemar dengan berbagai jenis kotoran dan sampah. Semakin pintar orang-orang, tetapi semakin sulit untuk diatur dan sepertinya tidak punya keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang telah dilakukan nenek moyangnya dahulu,"lanjut Kak Amah. Wandi kembali manggut-manggut, tapi matanya memerhatikan seorang perempuan yang sedang menyeberang.
Hati Wandi sedikit terhibur, saat A ling muncul di depan mereka. Ibu tiga anak itu sepertinya baru selesai mandi. Tampak sebagian rambutnya masih basah. "Bawa ikan apa aja, Ndi?"tanyanya. "Mujair Prapat. Kakap Timun. Lele. Kapuk. Tongkol sisik. Udang," "Aku beli mujair prapat sekilo. Udang setengah ya,"kata A ling memesan.
Wandi segera mengambil setengah kilo udang dan menyiangi ikan, membuang sisiknya, tapi tidak memotongnya karena A ling akan memangang ikan tersebut.
"Beli ikan apa hari ini, Kak?"tanya A ling pada Amah. "Hhh, masih bingung kakak, Ling. Mau masak, tapi mati air. Entah jam berapa nanti bakal hidup. Kalau nyuci ikan mana bisa tanggung-tanggung airnya, bisa-bisa amisnya nggak hilang setelah dimasak," "Ya..udah, daripada susah-susah, beli yang udah siap aja, Kak,"
"Mana mungkin mau beli di warung untuk dua kali makan, Ling? Mau menghabiskan uang berapa? Makanan di warung pun nggak cocok di lidah kakak. Lagipula kalau kita masak sendiri, lebih terjamin kebersihannya,"kata Amah.
Wandi menarik nafas. Biasanya, Kak Amah membeli ikan paling sedikit satu kilo setiap harinya. Wandi kesal. Kenapa mesti mati air, sehingga kegiatan orang-orang memasak jadi terganggu?
"Timbangkan aja kakap timun sekilo untuk kakak, Ndi. Kalau air nggak hidup juga, taruk aja dulu di dalam kulkas. Kalau airnya sudah hidup, baru dimasak,"berkata begitu, Kak Amah langsung merogoh uang di dompetnya.
Sudah hampir pukul sembilan, ikan-ikan di dalam bak kayu Wandi masih banyak. Wandi segera berlalu dari tempat mangkalnya, mencari pelanggannya yang lain.
*** Peristiwa matinya air PAM masih menjadi topik hangat, saat Amah singgah ke kedai sampah untuk membeli sayuran. Beberapa tetangga sebelah gang juga sedang mengungkapkan kekesalan mereka seputar mati air ini.
"Dulu, waktu kami masih tinggal di pinggir sungai, tidak pernah ada masalah soal air. Semua kegiatan yang berhubungan dengan air kami lakukan di sungai. Tapi sejak ada penggusuran rumah-rumah di pinggir sungai untuk urusan pemugaran sungai dari pemerintah Kota Medan dan kami harus pindah, masalah air jadi sangat menjengkelkan,"
"Harusnya kau pindah dari Sei Mati, jangan menyewa rumah di sekitar Sei Mati lagi, En"tukas Bu Sembiring. Eni, Irna dan Amah tertawa kecil mendengar ucapan pemilik kedai sampah itu.
"Entah kenapa ya, Sei Mati ini sulit untuk dilupakan. Dari cerita emakku di zaman ompungku masih hidup, keteduhannya tidak pernah sirna sampai sekarang. Masalahnya sekarang, rumah-rumah kecil kita sudah ditutupi dengan gedung-gedung bertingkat. Apalagi ada dua SPBU dibangun di sini, belum lagi bakal dibangun perumahan-perumahan yang mentereng di daerah kita ini,"lanjut Eni.
"Di satu sisi ada hikmahnya perubahan di Sei Mati ini, biar warga Medan di tempat lain tidak hanya mengenal Sei Mati karena di sini ada Pekuburan Mandaliling saja. Di sini ada SPBU terlengkap di Medan yang termasuk SPBU terbaik. Mungkin di lain waktu bakal ada Perkantoran, Mal, Bank ataupun Hotel. Tapi di sisi lain, lihatlah sudah banyak warga kita yang berangkat dari Sei Mati. Kita-kita termasuk sebagian orang yang masih bertahan. Sebagian lagi sudah dihuni pendatang baru di rumah baru mereka,"Amah menatap para tetangganya bergantian. Sesaat mereka terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Amah.
Tersadar waktu terus berjalan, Amah kemudian memilih sayuran di kedai Bu Sembiring. Eni dan Irna sudah memilih belanjaan mereka dan bersiap untuk berlalu.
"Ada baiknya masalah air ini segera kita laporkan ke petugas yang berwenang menangani, agar kemacetan air ini tidak berlarut-larut,"kata Eni.
"Tadi pagi kakak sudah mengingatkan abang untuk melaporkannya. Bukan saja perihal kemacetan air ini yang perlu ditindaklanjuti, tapi kebersihan air itu sendiri. Tak jarang air yang sudah kakak masak, ada yang tertinggal seperti pasir di bagian bawahnya,"jawab Amah.
"Masalah kemacetan, bahkan kelangkaan air bersih seharusnya ikut menjadi perhatian pemerintah. Jangan masalah kenaikan harga BBM saja yang menjadi masalah nasional yang sangat serius dan dibahas berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sementara kelangkaan air bersih atau bahkan banjir menjadi nomor kesekian yang harus diperhatikan. Padahal air merupakan faktor sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi lo,"kata Irna.
"Iya penting, meski nggak pake lo, gitu lo,"kelakar Amah, disambut tawa oleh yang lain. Mereka ke luar berbarengan dari kedai Bu Sembiring.
*** Tiga anak laki-laki Amah protes, begitu melihat menu makan siang di meja makan.
"Mak, lauknya nggak ada yang lain? Kok cuma sawi rebus sama telur dadar?"tanya Abdul, si bungsu. Ke dua abangnya ikut malas-malasan di meja makan.
"Makan aja apa yang ada, sayang. Jangan mentiko kali lah. Mak juga bingung mau masak kalau air macet kayak begini,"Amah bergerak cepat mengambilkan nasi ke piring anak-anaknya. Tapi disuruhnya juga Amat, anak ke dua untuk membeli kerupuk gadang di kedai untuk menambah selera makan. Amat langsung beranjak ke kedai dengan setengah berlari.
Amat muncul dengan nafas ngos-ngosan. Tangannya menggenggam empat bungkus kerupuk. "Mak, kata orang di kedai, Ompung Rangkuti, tetangga sebelah gang kita baru saja meninggal dunia,"kata Amat agak terputus-putus.
"Innalillahi Wainna Ilaihi Roji'un…"Amah menutup mulutnya. Pak Rangkuti, lelaki berusia tujuh puluh tahunan, penduduk lama di daerah ini. Termasuk teman almarhum ayah Amah di waktu muda.
Saat ingin berganti baju, Amah masih juga kesal dengan matinya air. Dia harus pergi melayat, padahal dia belum mandi sejak pagi tadi. Amah menggaruk badannya yang gatal, kemudian menaburinya dengan bedak talak. Sebuah gamis berwarna hitam ditaburi bordir bunga dipakainya. Sesaat kemudian dia membayangkan kesibukan di rumah keluarga almarhum Pak Rangkuti.
|