Sajak Esha Tegar Putra E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by Redaksi Web   
Saturday, 11 July 2009 10:31

Tiga Pilin Serenade Padang


I
ujung dari april. itulah janji bermula dibuhul pertemuan
kita tak menemu diri di kelok jalan padang, di ombak puruih
di meja kafe-kafe lusuh. dan bayang pesta tak kunjung ada
kau tahu, telah terbangun sebuah dunia baru, dunia yang tanpa
sengaja kita percakapkan di gelipat waktu? aku menyebutnya
sebagai peristiwa rindu yang membendung hujan lebat, di mata
dan maaf. jika kau anggap aku menyuapkan berpinggan-
pinggan geletar angin gunung padang ke manjamu
di tanganku garis malang telah disurat dari lengang kampung
" aku disumpah jadi lelaki tak pernah bisa dirindu, cuma dimalu"
(dan mungkin dikutuk waktu jadi bayangmu) 


berulang kali kubasuh sisa pasir pantai di rambutmu. kubingkai
kepingan kapal yang remuk dalam usia pelayaran, tapi matamu
berubah asing, perempuan, matamu tak bisa lagi membaca
secabik kenangan yang terserak sepanjang pertemuan.
aku yang dikutuk jadi bayangmu pada bulan yang lembab
tergelipat bersama sumpah waktu  

II
perkabungan ini tak akan pernah selesai. telah kupinjam kenyataan
badan masih terbiar hujan lebat dari dalam dan tikai menyeringai
dengan sansai. sepertiga malam menjadi pokok sunyi yang lain
seperti gejala kesakitan meradang segala urat di badan. kita akan
mengucap sumpah lagi, dalam panas garang dan cinta yang gersang
(oi...ini puisi jadi cengeng. serupa si padang yang melagukan kekasih
hilang di teluk bayur, kekasih meninggalkan tepian mandi dengan
ilalang yang meninggi, kenangan yang berlari)


tenunan adalah jalan. mengayuh waktu dengan mainan cuaca
membiarkan perkabungan menanam lumut pada batuan bukit
dalam dingin. tapi masih sepertiga malam yang asing. sepertiga malam
yang menyisakan wangi teh kayu aro di bibir cawan (ndeh...makin
cengeng ini puisi bermain dengan ingatan) waktu jugalah yang mengubur
bukit barisan ke dalam curam malam. dan waktu jugalah yang menukar
perkabungan menjadi ucapan selamat datang

semisal dirimu yang lalu yang berdiam bukan sebagai si padang
juga bukan sebagai si malin yang ditiup angin rantau ke tajam pasir
kita akan menyudahi saja cerita ini. cerita cuma kesakitan yang menakar
patahan waktu dengan permenungan "tapi adakah jalan di lain waktu,
di mana setapak, yang kehilangan ujung bertemu dipaut rindu"
tapi akan mengembali dalam diri yang jatuh berdiri.   
anggap ini tarian duri dan yang tak membaca ngilu tak akan terluka
tapi tusukan tetap akan berjejak, sampai tarian duri genap benar terhenti

sepertiga malam benar-benar menjadi lain. jadi menikam
kenyataan yang terpinjam tidak mungkin ditukar lagi. membiarlah diri
setapak jalan yang mencari arah pulang akan sampai pada lelah
akan benar terbiar di waktu

III
masih ombak yang menghuni badanku
kenangan akan melepas
sesuatu harus menjadi dalam diri. menjadi karang
dan kurindui pesisir tempat menetap
tergelak dengan debur dan berlarian sampai sudah
ahai...di sini aku jatuh lagi. pada sebuah diri
yang sama luka berlarian
2007


Tanah Tinggi
kau tanah tinggi-tanah tajam, yang menusuk angin
dari dua penjuru, melantunkan gaung nyeri ke telinga
setiap hidup. "takkah kau lihat burung tak jadi
singggah ke puncak cadasmu?" ujungmu, mirip hidung
gadis persembahan tanah lot, dengan merah
yang lahir dari daging kerang panggang

"takkah kau lihat batu-batu baku hantam dalam
badanmu, ingin melonjak, muncul menjadi pahlawan purba
yang bersenjatakan gada" kau tanah-tinggi tanah tajam
yang menanam belulang kayu ke endapan paling bawah.
kau tanah tinggi-tanah tajam,
menyimpulkan bagian sakit
dari tubuh gadis yang menelan air tanah,
jadi gelegak darah
2008

Kayu Hitam
kubayangkan jemarimu mengendap
ke dalam lekuk ngalau seribu lubang
sepuluh kuku panjangmu, jejak garis
tapakmu, luka basah yang masih
nyeri menggenggam dinding tajam dan
dingin. stalaknit manis bukanlah sebuah
incaran, tapi peristiwa ribuan tahun yang
terkubur dalam tanah lembab dan batu
berair kau jadikan pencarian. sungguh
jemarimu lincah bermain-berkejaran
dalam kelam lubang yang teramat
mengalahkan sanca yang fasih menyuruk
di balik batu dan dalam pasir

selain luka nyeri di tapakmu, mungkin ini
ketakutanmu: "semacam api yang lahir
dari tumpukan kayu hitam. kayu yang setiap
bulan naik mengendapkan suara kala, kelelawar,
sanca dan segala yang bermukim dalam ngalau

2008

Comments (0)
Share