|
Tiga Pilin Serenade Padang I ujung dari april. itulah janji bermula dibuhul pertemuan kita tak menemu diri di kelok jalan padang, di ombak puruih di meja kafe-kafe lusuh. dan bayang pesta tak kunjung ada kau tahu, telah terbangun sebuah dunia baru, dunia yang tanpa sengaja kita percakapkan di gelipat waktu? aku menyebutnya sebagai peristiwa rindu yang membendung hujan lebat, di mata dan maaf. jika kau anggap aku menyuapkan berpinggan- pinggan geletar angin gunung padang ke manjamu di tanganku garis malang telah disurat dari lengang kampung " aku disumpah jadi lelaki tak pernah bisa dirindu, cuma dimalu" (dan mungkin dikutuk waktu jadi bayangmu)
berulang kali kubasuh sisa pasir pantai di rambutmu. kubingkai kepingan kapal yang remuk dalam usia pelayaran, tapi matamu berubah asing, perempuan, matamu tak bisa lagi membaca secabik kenangan yang terserak sepanjang pertemuan. aku yang dikutuk jadi bayangmu pada bulan yang lembab tergelipat bersama sumpah waktu
II perkabungan ini tak akan pernah selesai. telah kupinjam kenyataan badan masih terbiar hujan lebat dari dalam dan tikai menyeringai dengan sansai. sepertiga malam menjadi pokok sunyi yang lain seperti gejala kesakitan meradang segala urat di badan. kita akan mengucap sumpah lagi, dalam panas garang dan cinta yang gersang (oi...ini puisi jadi cengeng. serupa si padang yang melagukan kekasih hilang di teluk bayur, kekasih meninggalkan tepian mandi dengan ilalang yang meninggi, kenangan yang berlari)
tenunan adalah jalan. mengayuh waktu dengan mainan cuaca membiarkan perkabungan menanam lumut pada batuan bukit dalam dingin. tapi masih sepertiga malam yang asing. sepertiga malam yang menyisakan wangi teh kayu aro di bibir cawan (ndeh...makin cengeng ini puisi bermain dengan ingatan) waktu jugalah yang mengubur bukit barisan ke dalam curam malam. dan waktu jugalah yang menukar perkabungan menjadi ucapan selamat datang
semisal dirimu yang lalu yang berdiam bukan sebagai si padang juga bukan sebagai si malin yang ditiup angin rantau ke tajam pasir kita akan menyudahi saja cerita ini. cerita cuma kesakitan yang menakar patahan waktu dengan permenungan "tapi adakah jalan di lain waktu, di mana setapak, yang kehilangan ujung bertemu dipaut rindu" tapi akan mengembali dalam diri yang jatuh berdiri. anggap ini tarian duri dan yang tak membaca ngilu tak akan terluka tapi tusukan tetap akan berjejak, sampai tarian duri genap benar terhenti
sepertiga malam benar-benar menjadi lain. jadi menikam kenyataan yang terpinjam tidak mungkin ditukar lagi. membiarlah diri setapak jalan yang mencari arah pulang akan sampai pada lelah akan benar terbiar di waktu
III masih ombak yang menghuni badanku kenangan akan melepas sesuatu harus menjadi dalam diri. menjadi karang dan kurindui pesisir tempat menetap tergelak dengan debur dan berlarian sampai sudah ahai...di sini aku jatuh lagi. pada sebuah diri yang sama luka berlarian 2007
Tanah Tinggi kau tanah tinggi-tanah tajam, yang menusuk angin dari dua penjuru, melantunkan gaung nyeri ke telinga setiap hidup. "takkah kau lihat burung tak jadi singggah ke puncak cadasmu?" ujungmu, mirip hidung gadis persembahan tanah lot, dengan merah yang lahir dari daging kerang panggang
"takkah kau lihat batu-batu baku hantam dalam badanmu, ingin melonjak, muncul menjadi pahlawan purba yang bersenjatakan gada" kau tanah-tinggi tanah tajam yang menanam belulang kayu ke endapan paling bawah. kau tanah tinggi-tanah tajam, menyimpulkan bagian sakit dari tubuh gadis yang menelan air tanah, jadi gelegak darah 2008
Kayu Hitam kubayangkan jemarimu mengendap ke dalam lekuk ngalau seribu lubang sepuluh kuku panjangmu, jejak garis tapakmu, luka basah yang masih nyeri menggenggam dinding tajam dan dingin. stalaknit manis bukanlah sebuah incaran, tapi peristiwa ribuan tahun yang terkubur dalam tanah lembab dan batu berair kau jadikan pencarian. sungguh jemarimu lincah bermain-berkejaran dalam kelam lubang yang teramat mengalahkan sanca yang fasih menyuruk di balik batu dan dalam pasir
selain luka nyeri di tapakmu, mungkin ini ketakutanmu: "semacam api yang lahir dari tumpukan kayu hitam. kayu yang setiap bulan naik mengendapkan suara kala, kelelawar, sanca dan segala yang bermukim dalam ngalau
2008
|