|
Oleh: Rina Mahfuzah Nst  “Setiap hari kau buka situs sastra itu. Kau bayangkan namamu muncul di situ, sampai kau tidak memerhatikan kesehatanmu. Baru berusia tiga puluh tahun sudah sering mengeluh sakit. Kalau tidak mata, telinga, perut, pasti kepalamu yang sakit," Â
"Aku ingin menulis tidak saja di koran lokal Medan, Mak. Tapi di media-media lain di seantero Indonesia. Kalau aku tidak berlatih setiap hari, bagaimana aku dapat mencapai apa yang kuinginkan?"
"Boleh berlatih, tapi harus ingat waktu. Kalau waktunya bekerja, ya bekerja. Waktunya makan, ya makan. Tapi kalau waktunya beristirahat, ya jangan bekerja. Sudah larut malam, tidurlah. Besok pagi kau harus berangkat ke kantor,"
Saat berbaring di tempat tidurku, tiba-tiba pandanganku berputar. Aku seperti merasakan kekuatan gempa sedang berlangsung di atas tempat tidurku. Perutku tiba-tiba seperti dikocok-kocok menghasilkan mual yang sangat hebat. Aku berteriak memanggil emak. Kupegangi kepalaku dengan kedua telapak tangan sampai menutup mataku.
Emak datang dari kamar sebelah dengan suara penuh kecemasan, langsung memelukku. Untunglah tak berapa lama serangan itu berhenti. Emak mengangsurkan segelas air hangat untuk kuminum. Berulang kali kutarik nafas sedalam-dalamnya, kemudian menghembuskannya.
 Sakit kepala yang biasa menyerangku, tidak pernah sampai separah ini. Dokter menyebut penyakit ini dengan istilah Vertigo. Aku diberikan beberapa macam obat untuk memulihkan kondisiku. Vertigo membuatku tidak bisa berbaring ke arah kiri. Tidak bisa menundukkan kepala saat sedang berdiri. Aku pun tidak bisa sepenuhnya bersujud dengan kening menyentuh sajadah.
Selain mengunjungi dokter, emak juga membawaku ke ahli pengobatan alternatif. Menurut emak, lebih baik menyembuhkan penyakit langsung ke asalnya. Bukan sekadar meredakan rasa sakit dengan minum obat-obatan tertentu, tapi setelah berhenti mengonsumsi penyakit akan kambuh lagi.       ***
Lelaki tua itu bekerja dengan jari telunjuk dan jempolnya. Ke dua jarinya bergerak di atas jari-jari kakiku, seperti gerakan memilin-milin. Lembut, tidak sampai menguras tenaga, tapi bagiku sebagai si empunya kaki bukan main sakitnya. Aku kerap beraduh-aduh ria. Tak jarang tanganku ikut memegangi kakiku, membuat lelaki itu berhenti sejenak dari kegiatannya.
"Sakit ini berasal dari asam lambungmu. Kalau yang ini berhubungan dengan syaraf otak di kepalamu. Pening-pening di kepalamu akibat peredaran darah di tubuhmu tidak lancar, sedangkan yang kau sebut vertigo, efek dari ketidakseimbangan lambung dengan otak kirimu,"ujarnya menerangkan seperti seorang dokter kepada pasiennya.
"Ibarat televisi, tubuhmu yang tampak dari luar itu adalah layar televisi, tapi remotenya ada di sini,"tambahnya dengan menunjuk jari-jari di kakiku. Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar analogi yang disampaikannya.
Ini kali ke tiga aku melakukan terapi di tempat praktik Pak Saddat. Kali ini tidak lagi ditemani emak. Ke dua jari Pak Saddat kini berpindah ke jari-jari tangan sampai pangkal lenganku. Sejenak aku melayangkan tatap ke arahnya. Wajahnya memancarkan keramahan. Kopiah tidak lepas dari kepalanya.
Dia bekerja dengan penuh semangat. Ceria, sehat dan luwes. Padahal usianya sudah lebih kepala enam, tapi tak kalah dengan orang berusia tiga puluh tahun sepertiku. Sebelum giliranku, dia telah mengobati beberapa pasien lain dengan berbagai macam penyakit. Ada yang mengalami stroke. Ada yang terkena asam urat. Ada pula pasien anak yang autisme. Pokoknya macam-macamlah. Bahkan masih ada yang menunggu di luar. Pak Saddat dengan setia mengurus semua pasiennya.
Mulanya aku tidak percaya kata-kata emak. Bagaimana mungkin dengan cara pengobatan yang dilakukan Pak Saddat bisa menyembuhkan penyakit? Hanya dengan gerakan memijat pada jari-jari kaki sampai bawah lutut, kemudian jari-jari tangan sampai pergelangan tangan, beliau dapat mengetahui penyakit yang diderita pasiennya sekaligus mengobatinya? Bahkan aku menganggap emak terlalu berlebihan.
"Husna, kalau bisa kau ikuti tujuh kali terapi berturut-turut. Percuma kalau kau datang sebulan sekali ke mari,"kata Pak Saddat sambil bangkit dari duduknya. Terapi selama tiga puluh menit sudah berakhir. Pak Saddat melap keringat di wajahnya.
Aku tersenyum. Sampai masalah gigi dan mataku pun orang di depanku tahu mengatasinya, pikirku.
"Insya Allah, setelah ini saya rutin, Pak. Terima kasih,"jawabku sambil menyelipkan uang enam puluh ribu ke tangannya. Dia mengucapkan terima kasih. Wajahnya masih sama seperti saat pertama kali aku melihatnya. Senyum ramahnya tidak pernah sirna dari bibirnya. Tiba-tiba aku merasa sangat kecil di hadapannya karena sempat meremehkannya.
Aku jadi terdorong untuk menerapkan hidup sehat setiap harinya. Mengatur waktu dan pola makanku dengan baik. Aku lebih sering makan sayur-sayuran dan buah-buahan dan tidak tidur larut malam. Pak Saddat saja yang usianya sudah lebih kepala enam mampu mempertahankan kesehatannya, kenapa aku yang separuh dari usianya tidak mampu? Pikirku.
Dan entah kenapa, aku pun jadi menghubung-hubungkan profesi Pak Saddat dengan hobiku dalam menulis. Bukan tidak mungkin, dari awalnya sebagai hobi, menulis kujadikan sebagai profesi. Dengan catatan, pekerjaanku di kantor tidak boleh terganggu. Aku merasa ada kesamaan di antara kami. Seperti Pak Saddat ingin menargetkan kesembuhan bagi para pasiennya, mungkin seperti itulah aku ingin karya-karyaku tumbuh dan berkembang. Diminati setiap pembaca setiaku.
Pada kunjungan berikutnya, aku jadi tahu bahwa keahlian Pak Saddat berasal dari seorang lelaki tua yang sering menumpang busnya saat Pak Saddat masih menjadi sopir bus antar lintas provinsi. Mula-mula Pak Saddat menerapkan ilmunya pada keluarga. Semakin hari, banyak tetangga datang ke Pak Saddat bila sedang sakit.
Kemudian timbul pertanyaan di hati beliau, mau menolong orang atau tetap sebagai sopir bus? Akhirnya beliau memutuskan untuk menolong orang dan berhenti jadi sopir bus.
Sejak saat itu, nama Pak Saddat mulai dikenal. Keahlian beliau mengobati penyakit menjadi pembicaraan segar. Aku pernah bertemu seorang pasien Pak Saddat. Orang itu sudah belasan tahun menjadi pasien Pak Saddat. Dari biaya berobat masih tiga ribu rupiah sampai enam puluh ribu rupiah, dia tetap kembali ke praktik Pak Saddat.
Kondisi kesehatanku jauh lebih baik sekarang. Aku jarang mengeluh sakit lagi. Aku lebih kreatif dalam menulis. Kiprah menulisku mulai berkibar ke koran nasional. Bahkan namaku ikut meramaikan situs sastra yang sering kubuka! Belakangan ini, aku sedang sibuk mempersiapkan kumpulan cerpenku untuk diterbitkan.
Sebenarnya aku merasa tujuh kali pertemuan dengan Pak Saddat masih kurang. Semakin aku mengenal Pak Saddat, aku semakin kagum padanya. Tidak sedikit pasien batal menjalani operasi setelah dipegang oleh beliau. Pasien sinusitis, kista, jantung, ginjal dan sebagainya. Dan pasien yang telah sembuh acapkali memindahkan sejumlah uang ke kantong Pak Saddat sebagai ungkapan terima kasih.
Dari hasil membuka praktik, Pak Saddat telah naik haji bersama istrinya. Pak Saddat juga telah membelikan ke lima anaknya rumah yang layak. Pak Saddat sendiri tetap sebagai sosok bersahaja. Disenangi para pasien dan warga di lingkungan tempat tinggalnya. Baik, ramah dan suka menyumbang.
Tapi tetap saja manusia hanya punya rencana dan cita-cita. Suatu hari, di ruangan praktik Pak Saddat, ada duka yang mendalam. Ada tangis dari orang-orang yang kehilangan. Satu hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan di benak para pasien Pak Saddat, apalagi aku. Bahwa Pak Saddat yang ramah, luwes dan ceria akan dipanggil Tuhan, tanpa pernah meninggalkan tanda-tanda kepergiannya! Dua hari tubuhnya sakit dan tidak membuka praktik, pada malam Jumat selepas Maghrib Pak Saddat mengembuskan napas terakhirnya.
   "Selamat jalan, Pak Saddat. Doa kami selalu menyertaimu…"
|