|
Seorang tukang pos menyampaikan titipan Zainuddin padaku. Ia berpesan agar aku segera pula menyampaikannya kepadamu. Maaf beribu kali maaf. Tersebab dia memberikannya dalam amplop yang tak tertutup terlalu rapat, meski sudah setengah mati berusaha, tetap saja aku gagal menahan diri untuk tidak melihat isinya. Lima lembar potret dan tiga carik kertas. Potret yang masing-masing diberinya judul dan deretan angka ini, yang kuduga sebagai tanggal pengambilan, samar kukenali. Zainuddin pernah menunjukkannya padaku (atau mungkin hanya kudengar lewat cerita). Mengapa aku yang dimintanya menyampaikan titipan ini kepadamu, aku tak tahu. Barangkali hanya kalian yang tahu dan kupikir itu memang bukan urusanku. Hanya karena perkawanan aku bersedia meluluskan permintaannya ini.
Tapi maaf sekali lagi jika kiranya kau anggap aku terlalu lancang. Titipan ini bersamaku beberapa malam. Bukan kusengaja karena sungguh tak gampang bagiku menemukan alamatmu. Dan pertahananku akhirnya ambrol. Aku tak dapat lagi menahan diri. Potret-potret dan rangkaian kalimat pada tiga carikan kertas yang tanpa pendekatan atau pertimbangan ilmiah apa pun kuurut berdasarkan angka (meski kau boleh membacanya dari mana saja), bagiku mengandung begitu banyak pertanyaan. Ah, selama ini aku berpikir sudah sangat mengenal Zainuddin. Ternyata tidak. Ternyata hanya dari lima lembar potret dan tiga carik kertas, kutahu begitu banyak yang tak kuketahui perihal dirinya. Lantaran tak mungkin lagi aku bertanya kepadanya, maka apa boleh buat, terpaksa aku bertanya kepadamu.
POTRET SATU LAUT DAN SAYA, KAMI HAMPIR SEPAKAT MEMULAI PERKAWANAN_ KAMIS 120399_ ZAINUDDIN Dapatkah kau memperkirakan gerangan apa yang melejit dalam pikiran Zainuddin ketika ia mengintip dari balik lensa lantas menekan shutter untuk mengabadikan momen ini? Seorang lelaki, mengapung di antara sekadar jala, perahu bobrok, kacamata renang dari zaman purba dan sebatang bambu sebagai alat bantu bernafas saat menyelam di laut pada pagi buta yang menggigilkan. Aku ingat, kira-kira dua bulan lalu, Zainuddin (dengan begitu bersemangat) menceritakan kembali adegan demi adegan yang dilakoni Santiago saat bertarung memperebutkan ikan Marlin tangkapannya dengan penguasa laut. Santiago, katanya di akhir kisah, merasa memenangkan pertarungan meski pada kenyataannya ikan Marlin itu tinggal belulang yang meruapkan amis.
Sudah tentu lelaki ini juga sedang bertarung. Tapi seperti aku, kau pun kupikir pasti percaya, Zainuddin takkan sampai konyol menyamakan rekaan Hemingway dengan lelaki yang tampak kedinginan ini. Santiago bertarung untuk sepotong harga diri yang selama bertahun-tahun ia injak-injak sendiri. Mungkin lelaki ini tidak. Si tua Santiago pada akhirnya pun sepakat merajut perkawanan dengan laut. Lelaki ini, kukira, belum sampai ke sana. Mungkin baru pada tahapan memulai. Iya, laut, barangkali masih sering mengesalkannya, bahkan membuatnya murka, dan apa boleh buat, aku pun cenderung lebih percaya, ia bertarung sekadar sebagai upaya untuk tetap menjadi bagian dari upacara kehidupan yang (padahal ia tahu) makin lama makin menjemukan. Persoalannya sekarang, kepada siapa kau, seperti halnya aku, akan percaya bahwa ke depan, kehidupan ini terus bertambah sontoloyo? Pada Zainuddin, atau pada lelaki yang sama-sama tak kita kenal ini?
POTRET DUA TANGIS_JUMAT240403_ZAINUDDIN Tak salah lagi, perempuan dalam potret ini sedang menangis. Tapi hematku, janganlah kau buru-buru ambil kesimpulan dia tengah berada dalam situasi yang jamak jadi penyebab mengapa seseorang bisa meneteskan air mata sampai mengalir membelah cekung tembam pipi. Kukira memang bukan! Ini bukan sebangsa tangis yang hadir sebagai reaksi keterpurukan perasaan oleh pengkhianatan cinta seperti tersabdakan dalam kebanyakan dangdut. Bukan pula tangis yang dibangun sedemikian rupa atas nama penyegaran ingatan: betapa kecengangan masih menjadi sisi penting lakon kemanusiaan. Untuk kali ini kuharap kau, sebagaimana aku, dapat bersepakat dengan Zainuddin: dia menangis sekadar karena memang tak tahu harus berbuat apa selain menangis.
Begitulah menangis kadangkala menjadi pilihan paling masuk akal. Bukan yang terbaik - kuminta kau menggarisbawahi ini. Melainkan cuma pilihan yang masih bisa diterima logika tatkala perasaan sudah remuk redam sedemikian rupa. Dengan menangis, setidaknya, hakekat, atau malah identitas kemanusiaan itu, masih bersisa.Perempuan ini, seperti kukatakan tadi, benar-benar tak punya alternatif pilihan. Mau apa lagi? Segerbong kata-kata, alasan yang mengular, hanya akan jadi tambahan masalah. Meraung-raung menyesali diri pun tiada guna. Salahnya sendiri, mengapa sampai tak punya kuasa menolak bujuk Suami yang memintanya membawa seplastik Ektasi. Ini kesempatan, Dindaku, kata Suami itu. Di sini, sedikit sainganku.
Pada awalnya perempuan ini, paling tidak menurut cerita Zainuddin, menolak permintaan Suami. Ia justru berupaya menganjurkan pertobatan. Ingat, Bang, kau masuk pun gara-gara Pil Setan, ucapnya. Suami marah. Suami merajuk. Suami mengancam menjerat leher sendiri. Ia menyerah. Tapi nyatanya ia kelewat gugup. Gemetar hebat sekujur badannya saat akan melewati pemeriksaan. Petugas jatuh curiga, lalu menelanjanginya dan menemukan bungkusan plastik berisi lima puluh butir Ektasi yang disempilkan sedemikian rupa di balik lipatan celana dalam. Kini ia dibui, menyusul Suami, membawa buah hati yang kelahirannya tinggal menunggu hari. Sekarang, katakan padaku. Apakah boleh kita jatuh kasihan pada nasib perempuan ini? Atau, kita pandang dia tiada berbeda dari pelaku kriminal lain? Sampai kali terakhir perjumpaan kami, Zainuddin belum bisa memberi jawaban. Pun begitu aku. Dapatkah kau?
CATATAN KECIL (YANG MUNGKIN PENTING) I
Sejurus kau tertawa, Anamira. Keras sekali. Nyaring sekali, dengan tempo cepat dan turun naik. Menyeramkan sekali. Mirip sekali dengan suara tawa yang sering didiskripsikan dalam cerita-cerita jum'at Kliwon: tawa mahluk perempuan jadi-jadian! Hmm, kau cantik (bahkan untuk ukuran perempuan-perempuan cantik). Tak pernah aku bertemu perempuan secantik dirimu, Anamira. Kulit putih, tubuh proporsional (kini disebut models look): 170-175 cm, 55-58 kg, barangkali 34B. Bibir merah basah, rambut panjang sedikit melewati bahu, gelombang Sophia Loren dan burgundy, diikat manis Malam itu, tak seperti biasa, kau mengenakan Jeans.
You Can See putih, dengan cetakan wajah Audrey Hepburn di dada. Lubang? Ah, tentu tiada lubang menganga penuh ulat di punggungmu, Anamira. Yang ada hanya ukiran jarum, di pundak, dengan perpaduan hijau-hitam yang membentuk susunan kalimat dalam aksara Tibet yang entah apa bunyinya. Sekali lagi kau cantik, ibarat bunga. Cuma sungguh sulit bagiku menghirup harummu. Ibarat bunga, Anamira, kau adalah bunga dengan kuntum dari logam. Kira-kira kau mengerti apa maksudnya?
POTRET TIGA KAMI MENOLAK DISEBUT INDON _ RABU040309_ZAINUDDIN Dua lelaki, berkulit sawo matang, memainkan biola, bersandar di tiang antara tembok peron yang penuh kata maki. Sayatan biola itu meningkahi lantun kalimat bocah berkostum badut - lengkap dengan pupur dan hidung bulat merah. Menurut Zainuddin, meski belum matang, kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut bocah itu cukup menggetarkan: ada pisau tertinggal di jalan. Aih, sebaris sajak lama Rendra. Sajak yang agak jarang terdengar hingga karenanya jadi berharga, apalagi jika ternyata ada bocah mampu memuisikannya luar kepala. Adegan tadi kudapati pada secarik foto Zainuddin yang ia perlihatkan padaku belum lama ini. Foto yang dibuat dengan teknik sederhana (untuk tidak menyebutnya tanpa teknik sama sekali). Seharusnya, Zainuddin bisa mengatur bidikan slow speed, hingga gerak kaki orang-orang yang melintas di peron itu muncul sebagai kelebatan cahaya. Tapi tidak. Zainuddin mengabaikan teknik itu hingga membuat fotonya sekilas pintas terlihat seperti potret keramaian stasiun kereta api biasa saja. Aku juga tak menangkap maksudnya apabila dia tak bercerita. Biola tetap dimainkan, puisi tetap dirayakan, dan tiada seorang juga sekadar menoleh muka, katanya. Peron tetap sibuk, tetap riuh, tetap angkuh - seperti sebaris kalimat pada puisi itu: hari berdarah terluka dan tiada seorang berkabung.
Tentu, di antara kehidupan yang berputar dengan cara begitu-begitu saja, siapalah bersedia meluangkan waktu untuk memerdulikan mereka? Tentu, tiada pula yang peduli jika ketiga anak manusia itu, tiga hari berselang, ditangkap dan dijebloskan ke balik bui dengan tuduhan pendatang haram. Dan sudah pula tentu, tiada seorang pun peduli ketika mereka, bersama puluhan orang lainnya, dikirim pulang setelah sebelumnya dipukuli, dikencingi, dibotaki, dicacimaki.
Apakah mereka menyerah? Lihatlah potret ini. Telah botak kepala-kepala itu - dengan cukuran tak rata. Wajah mereka lelah, kusam, penuh daki. Dua orang terpaksa dipapah, barangkali lantaran demikian kerasnya hantaman ujung sepatu polis-polis diraja jahanam itu. Tapi tolong katakan kalau aku keliru. Dalam penglihatanku, mata mereka, iya, adalah tetap mata yang sinarnya masih merayakan harga diri. Oi, kami ini bukan bangsa babu! Apakah kau juga melihatnya?
CATATAN KECIL (YANG MUNGKIN PENTING) II Sepekan lalu (ah, tak sampai selama itu kukira - paling-paling hanya empat hari!), setelah menerima sepotong kepala lewat kiriman paket pos, lelaki itu datang padaku. Di tangannya sebuah kapak. "Kita belum genap 17 tahun ketika datang ke tenda Peramal Gypsi di Pasar Malam itu," katanya. "Kita ingin mencuri bola kristal itu. Setidaknya begitu rencanamu. Tapi yang kita dapati justru senyum perempuan itu. Senyum mengejek yang takkan pernah kulupa. Apa mau kubilang, sebutnya, kekonyolan ini terjadi lagi, dua lelaki mencintai perempuan yang sama."
Aku tak tahu harus menjawab apa. Bibirku terkunci. Padahal sebenarnya begitu banyak ingin kubuncahkan. Mungkin pula kediamanku disangkanya sebagai jawaban. Maka tanpa banyak kata lagi, ditetakkannya mata kapak ke lehernya sendiri. Namun tepat sebelum kelebat ujung baja berkilatan memapas urat, kutangkap betapa pipinya basah oleh linang air mata. Aku semakin tak paham. Bagaimana denganmu?
POTRET EMPAT KALAU BERKENAN, BERIKAN SEKERAT IMPIAN, TUAN _KAMIS 210507_ZAINUDDIN suatu siang yang terik, kalau tak keliru ingat, pertengahan September 1977, seorang lelaki tergopoh berlari. Begitu saja bahkan tanpa permisi, nyelonong ia masuk rumahku, terus ke kamar, terus menyuruk ke kolong tempat tidur. Hampir ia kuhardik, jika saja dari luar tak kudengar langkah-langkah tergesa beriring teriak-teriak bernada marah penuh: mana dia, mana dia! Seketika itu, dalam kepalaku berkelebat dua hal. Pertama, kubalas teriakan itu: dia di sini, dia di sini! Atau yang kedua, diam. Entah atas dorongan apa, kuputuskan untuk diam.
Lelaki yang menyuruk di kolong tempat tidurku itu Zainuddin. Seorang tukang foto. Istilah sekarangnya, fotografer. Bekerja untuk sebuah koran sore yang tak terlalu terkenal. Hari itu, dia memotret sekelompok pengemis yang tengah meminta-minta di salah satu persimpangan di kota kami. Tak dinyana, mereka tak senang, lantas beramai-ramai mengejar Zainuddin. Bung telah menyelamatkan saya, ini tak akan saya lupakan, katanya, sesaat setelah keluar dari kolong tempat tidurku.
Ketimbang mencermati komposisinya, potret ini lebih mengingatkanku pada peristiwa itu. Zainuddin, memang memegang ucapannya. Dia tak melupakanku. Sampai beberapa hari lalu, dimana untuk kali pertama sejak siang terik itu, ia hadir di rumahku hanya dalam bentuk titipan yang harus pula kusampaikan kepadamu.
CATATAN KECIL (YANG MUNGKIN PENTING) III Ai diingot ho dope ito rap dakdanak uju i. Rap marmeam-meam di hauma manang di balian i. Ho marlojong lojong di batangi laos hu adu sian pudi. Laos tinggang do ho ditikki i sap gambo bohimi. Tumbuh besar di Medan, dalam sekedipan mata kukenali kalimat-kalimat ini sebagai kalimat berbahasa Batak yang dituliskan dalam aksara latin. Belakangan aku pun tahu kalau ternyata ia merupakan syair lagu. Seorang parlapo tuak, melantunkannya beriring gitar dengan gaya Victor Hutabarat. Suara serak yang entah bagaimana bisa mencapai lengking tinggi, menyempurnakan gambaran perihal kenangan percintaan di sebuah kampung. Kau berlari-lari di pematang dan aku mengikutimu dari belakang. Ois! Sebuah keromantisan yang tak dibikin-bikin.
Cuma masalahnya satu, ada hubungan apa Zainuddin yang Minang aseli itu dengan kenangan percintaan di kampung Batak? Adakah pula hubungannya dengan perempuan bernama Anamira sebagaimana dia sebut-sebut dalam carikan kertas yang kutuliskan sebagai 'Catatan Kecil I'? Tapi mungkinkah perempuan dengan ciri modern seperti dia mau membuang-buang waktu berlarian di pematang seperti dalam film Hindustan? Zainuddin tak pernah bercerita padaku. Bahkan sepanjang pertemanan kami, tak sekali pun kudengar atau kulihat dia menjalin percintaan. Apakah kiranya kau lebih tahu tentang hal ini?
POTRET LIMA VIADOLOROSA_SELASA020609_ZAINUDDIN Sungguh mati, pertama kali melihat potret ini dalam sekilas pintas, lantaran sama-sama diawali huruf 'V', aku terlanjur yakin judul yang dituliskan Zainuddin adalah 'Valentino'. Sebuah parodi barangkali. Lihatlah, seekor monyet mengenakan baju balap dan di "motornya" tersemat angka 46. Di kolong jagat, hanya seorang pembalap yang berhak mengenakan nomor ini! Aku keliru, ternyata. Memang Viadolorosa! Oidah! Tadinya tak berani aku menerka-nerka. Bukan perkara main-main soalnya. Tapi, dorongan rasa penasaran tak dapat kutahan. 'Viadolorosa' itukah yang dimaksudkan Zainuddin? Jika memang benar, tentu ia keliru menuliskannya. Seharusnya bukan 'Viadolorosa', melainkan 'Via Dolorosa'. Jika hanya kekeliruan penulisan, maka apa dasar Zainuddin hingga ia berani mengandaikan penderitaan Jesus yang tak berperi saat dipaksa para laknat berjalan memanggul salib menuju Kalvari, hidup dalam potret ini?
Aku melihat seutas rantai besi, terikat erat pada "motor" dan tubuh "Valentino". Seperti dalam pertunjukan topeng monyet pada umumnya, pawang menjadikan rantai ini sebagai alat kendali. Aku bisa membayangkan betapa hebat sakit yang dirasakan monyet ini saat pawang menarik rantai untuk membuat motor bernomor 46 tersebut meluncur. Betapa hebat sakit yang dirasakannya saat ia terpelanting dari motor lantaran hilang keseimbangan dan pawang menyentakkan rantai agar ia cepat berdiri mengambil kembali motornya karena para penonton memang tak boleh berhenti bertepuk tangan.
Jesus yang mulia menjalani derita untuk menanggung dosa manusia. Monyet ini jelas tak berdosa tapi dia harus menanggung sakit demi selera rendah manusia. Jesus, sebagaimana Rasul-Rasul Allah dijamin tempatnya di Surga. Dan monyet ini pun kupikir punya kesempatan yang sama dengan Untanya kekasih Allah Muhammad atau Anjing para pemuda Ashabbul Kahfi. Tapi apakah ini semua cukup menjadi dasar bagi Zainuddin untuk memberi potret ini judul jalan derita? Atau jangan-jangan ia punya maksud lain? Jangan-jangan 'Viadolorosa' di sini memang benar sekedar 'Viadolorosa' yang sama sekali tak berhubungan dengan kitab suci?
Sebelum kau menjawab, aku ingin kau memahami betapa sebenarnya aku sungkan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan ini. Kita tak saling kenal dan barangkali pula tak akan pernah mendapat kesempatan untuk saling mengenal. Tapi apa boleh buat, kawan, daripada nanti malah jadi mati penasaran. Mudah-mudahan kau berkenan.
Medan, Maret-April 2010
|