|
Belakang ini RSU Pirngadi Medan jadi “buah bibir.” Setelah rumah sakit milik Pemko Medan itu dikritik terkait perilaku diskriminatif terhadap pasien miskin, kini soroton mengarah ke ruang jenazah yang kondisinya makin memprihatinkan. Ruangan ini merupakan tempat penyimpanan mayat sementara, yang mayoritas berasal karena korban kasus kriminal atau mayat yang ditemukan tanpa identitas alias biasa disebut Mrs X (untuk laki-laki dan Mrs X untuk wanita). Jenazah-jenazah khususnya Mr X dan Mrs X disimpan dalam lemari pendingin. Jumlah lemari es yang tersedia ada 3 unit, 1 unit masing-masing 2 pintu (bentuknya panjang ke dalam seperti peti mayat).
Sumber Global di ruangan itu menyebutkan, ke 3 unit lemari es ini sudah lama tidak layak dipakai lagi, karena sering rusak sekalipun berulang kali diperbaiki. Ketidaklayakan bukan karena itu saja, namun suhu pendingin lemari es berusia lebih 10 tahun ini hanya 20 derajat Celcius.
“Lemari pendingin ini pada dasarnya memang tidak layak lagi dipakai, karena seharusnya suhu dingin yang layak minus 01 sampai minus 02 derajat Celsius. Namun sekalipun tidak layak untuk sekarang, keadaannya makin parah karena sudah seminggu ini rusak,” kata pria berkulit hitam yang telah bertugas di instalasi lebih dari 8 tahun itu.
Akibat kerusakan itu lemari pendingin, jelasnya, membuat 6 jenazah plus 1 orok (mayat bayi tanpa identitas), yang sudah seminggu tersimpan di dalam lemari menjadi busuk. “Akibatnya sangat menganggu di indera penciuman kita. Kalau bagi kami tidak masalah, karena bagi kami itu tidak bau, namun pengunjung yang lewat ataupun pasien di ruangan rawat inap yang di depan, (jarak 1 meter dari intalasi) ini mereka sering kebauan,” katanya.
Lantas mengapa jenazah itu tidak dimakamkan saja? Diakui, hal itu bukan karena tidak ada biaya penguburan namun pihaknya masih menunggu keluarga. “Kan lebih baik mereka dikuburkan keluarga.
Karena ada saja keluarga yang datang mencari keluarga yang hilang setelah membaca pemberitaan di koran tentang ada temuan mayat,” katanya Kamis (29/7) kemarin. Hal ini dibenarkan, salah seorang staf di ruang instalasi jenazah, Sri. Diakui, pihak intalasi kamar mayat ini, karena seringnya rusak lemari pendingin, pihaknya sudah mengusulkan ke manajemen rumah sakit agar lemari merek Kulkasindo ini segera diganti. “Permintaan sudah kami sampaikan tahun lalu dan tahun ini juga, tapi sampai sekarang usulan itu masih dalam proses,” kata Sri.
Kepala Bagian Penyediaan Alat-alat Medis RSU Pirngadi Medan, Kharuddin SE yang ditemui secara terpisah mengaku telah menerima pengaduan tentang ini. Hanya saja, kata Kharuddin, tahun 2009 lalu pihaknya belum memasukkan proyek itu dalam daftar anggaran. “Namun tahun depan (2011) telah kami masukkan ke dalam rancangan APBD lewat Pemko Medan. Jika ini disetujui, tahun depan lemari pendingin sudah dapat diganti,” kata Kharuddin yang mengaku tidak mengetahui harga per unit karena lewat tender.
Sehingga untuk kerusakan sekarang, pihaknya telah mencari teknisi ahli yang bisa memperbaiki lemari ini.
“Jadi yang bisa dilakukan sekarang ini, hanya bisa memperbaiki lemari pendingin ini dulu. Namun terus terang, agak sulit menemukaanya, karena harus diperbaiki di dalam ruangan, sedangkan di dalam bau. Namun sekalipun demikian kami sedang mencarinya yang mau,” katanya lagi. Monitoring Global, aroma busuk yang menyengat begitu tercium sekalipun telah berjarak sekitar 100 meter dari ruangan itu. Tak pelak lagi, para pengunjung ataupun pasien rawat jalan yang kebetulan lewat untuk cuci darah, harus menutup hidungnya.
HOTMA SARAGIH | GLOBAL | MEDAN
|