|
Kesal karena pihak Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tanpa kebun tak mampu menjaga harga jual Tandan Buah Segar (TBS) petani, pihak Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mengancam memboikot keberadaannya. “Jika akhirnya buah petani busuk, kita bersedia. Pasokan buah ke pabrik kelapa sawit tanpa kebun akan kita hentikan jika mereka tetap menjual di bawah harga pasar,” tegas Ketua DPP Apkasindo, Anizar Simanjuntak, di Medan, Kamis (29/7). Selama ini, lanjutnya, hampir sebesar 70% buah yang dipasok ke pabrik swasta tanpa kebun merupakan kontribusi petani. Kondisi ini menciptakan ketergantungan operasional PKS tanpa kebun terhadap TBS petani.
Ironisnya, saat PKS yang memiliki kebun enggan menampung TBS petani, PKS tanpa kebun justru melakukan aksi "jual mahal" melalui penerapan harga beli yang relatif murah. "Harga jual TBS bertolak belakang dengan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil, CPO) di pasar luar negeri yang kian menguat," ujarnya. Anizar menyatakan, pada penutupan perdagangan Selasa (27/7), harga minyak sawit mentah di market Roterdam berada pada posisi US$ 832,50 dengan tender Rp 7.456 per kg. Sehari kemudian, harga CPO kembali terdongkrak di US$ 837,50 dengan tender Rp 7.559 per kg. Wakil Sekjen Apkasindo, Taswin Kiflan, mengakui, saat ini hampir seluruh sentra produksi kelapa sawit rakyat menghadapi masa panen raya secara serentak. Dampaknya, harga pembelian petani di pabrik yang seharusnya Rp 1.300 per kg turun menjadi Rp 1.100 per kg. Tak hanya itu, Taswin menyatakan, buah petani masih harus dikenai potongan harga langsung sebesar tiga persen untuk kadar kotor.
Belum lagi, pedagang meminta keuntungan berkisar Rp 40 per kg dan keuntungan petani mesti dipotong dari biaya ongkos angkut buah ke pabrik berkisar Rp 70 per kg. Artinya, petani hanya mendapatkan harga jual sekitar Rp 1.050 per kilo. "Praktek ini tidak terjadi di PKS yang memiliki kebun kelapa sawit," ujarnya. EVA | GLOBAL | MEDAN |